Sabtu, 31 Desember 2011

Seni Penolakan Haibara kala Mempersiapkan Family Gathering

Haibara kesal dengan sesuatu menyebalkan yang harusdilakukan untuk kesekian kalinya. Ini gara-gara dirinya diseret  Shinichi Kudo untuk ikut serta menjadi panitiafamily gathering di kantornya. Jabatannya gak tanggung-tanggung lagi.  Koordinator acara family gahthering!

Haibara yakin seyakin-yakinnya bahwa sembilanpuluh persen pekerjaan panitia family gathering ini ada di seksi acara.  Jadi Shinichi memberi “gunung gajah” untukdipikul Haibara. Kerjanya pasti berat banget, berjibun-jibun serta akan memakanhabis waktunya. Gimana nggak berat kalo harus membuat acara yang menarik buat 4000 orang!.



Udah gitu Shinichi dan teman-teman lainnya pengen acarabeda sama sekali dari tahun lalu. Gak boleh sama!  Harus ada novelty-nya kata mereka.  Sebagai salah satu dampaknya pengisi acara darimulai pembukaan hingga penutup  adalahkaum profesional dari luar perusahaan. 

Definisi profesional menurut Shinichiadalah layak masuk TV. Artinya jika si pengisi acara belum pernah ditayangkan diTV berarti dia belum bisa dipentaskan di family gathering.  Sebuah persyaratan yang ditentukan olehShinichi, tapi dampaknya langsung terasa oleh Haibara, yaitu dirinya harus jungkir-balik & pontang-panting mencari pengisi acara.

Sebenarnya semua itu menyenangkan Haibara yang emang demen bikin acara seperti ini. Yang menyebalkan hanya satu, yaitu wanti-wanti Shinichi kepada Haibara untuk pandai-pandai menolak semua permintaan dari kalangan internal untuk tampil — termasuk bila ada request dari para petinggi di kantor.

Bahkan bos-nya sendiri pun harus ditolak jika mintaanaknya bisa tampil di family gathering.  Itu semua karena cita-cita Shinichi untukmembuat integrated family gathering.Entah dari mana dia mendapat istilah itu. Yang pasti Haibara yakin itu bukan ideasli Shinichi, secara anak itu bukanlah ahli tentang acara-acara sepertiini. 

Integrated FamilyGathering menurut Shinchi berarti  acaradari awal sampai akhir adalah satu kesatuan yang sudah dipersiapkan dari sejakmembuat konsep acara.  Jadi pengisi acaraditentukan berdasarkan konsep acara dan bukan sebaliknya.  Nyatanya emang demikian. Setelah ditentukankonsep acara, maka panitia kecil yaitu Shinichi, Haibara, Kogoro dan dua temanlainnya membutuhkan waktu tiga minggu hanya untuk memperdebatkan susunan detailacara dan siapa saja yang akan mengisi acara.

Debat selepas jam kerja yang berlangsung hingga larutmalam bahkan terkadang sampai dini hari itu untungnya berhasil melahirkan blueprintfamily gathering yang menjadi panduan bersama semua panitia. Disitu sudahtercantum semua pengisi acara, tidak boleh ada tambahan lagi. 

Blueprint itujuga menjadi panduan dalam hal tolak menolak para peminat jadi pengisi acara. Jadimasalahnya bukanlah kualitas para peminat tersebut,  tapi karena konsep acara menghendaki pengisiacara yang sesuai dengan konsep itu dan mereka telah selesai dipilih oleh panitia.  

Alhasil sampai tujuh hari menjelang acara, Haibara udahmenolak belasan calon pengisi acara. Dari mulai band lokal karyawan, anakkaryawan, keluarga rekanan kantor, hingga pihak-pihak luar yang inginberpartisipasi. Semuanya ditolak dengan sukses oleh Haibara.   

Namun kali ini yang minta beda. Dia adalah seorangpetinggi, bekas koordinator Haibara saat dirinya mengikuti satu project yangdipimpin orang itu beberapa tahun yang lalu. Si Bapak ingin anaknya tampil dipanggung family gathering.

Paduan suara anak-anak SMP.  Sebenarnya seru juga siy karena Haibara tahupersis suara mereka bagus-bagus. Dia pernah melihat mereka pentas di Sabuga.  Namun blueprint  udah terbit.  Slot acara sudah tersusun rapi.  Bisa dibom Shinichi bila dirinya merubahnya hanyakarena dirinya  gagal menolak satu permintaansaja.

Wuhhh kali ini Haibara harus berusaha keras untuk menolaknyadengan halus.  Secara dirinya banyakberhutang budi pada si Bapak yang telah mengajarinya banyak hal tentang perprojekan. Sungguh sial dirinya harus melakukanpenolakan ini.  Satu hal yang tidakpernah diduganya menjadi bagian dari tugas sebagai koodinator acara familygathering -– menjadi Sang Penolak.  Dus Haibaratiba-tiba merasa menggenggam bola panas yang harus secepatnya dia padamkan.

Haibara ingat seminggu yang lalu dirinya dengan susahpayah berhasil menolak permintaan teman dekatnya untuk menampilkan adiknya yangtelah lima tahun ikut sanggar tari dengan cita-cita ingin bisa pentas di kantorkakaknya.  Dirinya harus tegar saatmelihat si adik kecewa dari sebelumnya hatinya berbunga-bunga karena mengiradapat tampil di panggung dengan ditonton ribuan orang itu.  Secara Haibara sering banget berenang barengsi adik itu di hari-hari libur – dapatlah dibayangkan kekeluan lidahnya.  Pahitnya mengecewakan teman dekat benar-benardia rasakan saat itu

Penolakan yang lebih ringan -- dilakukan Haibaraterhadap salah satu instansi keamanan yang ingin menampilkan band yang barusaja mereka bentuk.  Juga dari  klub lawak yang salah satu anggotanya adalah karyawankantor. Juga dari beberapa orang luar yang berminat mengisi acara. Untunglah  mereka semua  bisa mengerti alasan yang dikemukakan Haibara.

Haibara berusahakeras menjelaskan adanya blueprint family gathering yang harus dipatuhi. Juga tentang DP semua pengisi acara yang sudah dibayar dan acara sudah tersusun rapihingga hitungan menit.  Semua itu membuatpengisi acara tak memungkinkan untuk dirubah lagi. Dan memang demikianlahadanya.  Kadangkala dia menghibur para peminattersebut dengan menyarankan mereka untuk mengajukan diri pada acara yang lainseperti ulang tahun himpunan kayawan atau acara DKM.  Sebuah penolakan yang dikritik Shinichisebagai melemparkan bola panas pada orang lain.

^_^

Setelah hampir satu jam dalam keraguan, akhirnya Haibaramemberanikan diri menjawab SMS itu. Dia sudah terlalu lelah mencari-cari  kalimat yang enak untuk diungkapkan.

“Mohon maafPak,  slot waktu pengisi acara sudahpenuh, gak bisa diselip-selipin lagi. Jadi panitia tidak bisa menampilkan paduansuara si adik”

“Saya hanya butuh waktu paling lama 20 menit untukmenampilkan 4 lagu. Please tolonglah mereka sudah sangat antusias untuk tampildi family gathering”. Demikianlah bunyi  jawaban atas SMS Haibara

Duh! Haibara pusing gimana cara dia bisa menolakpermintaan kedua  ini. Secara dia sudahdivonis mati oleh Shinichi gak boleh merubah-rubah acara lagi karena semuanyasudah dihitung hingga satuan menit oleh Show Director. Tak satu menit-pun yangdibiarkan lowong tanpa detail kegiatan yang harus dilakukan pada menit tersebut. Memasukkan pengisi acara baru berartimulai kerja besar lagi menyusun acara.

Akhirnya Haibara memutuskan untuk melenggang ke ruanganShinichi untuk minta “pertanggung jawaban” dengan cara memilihkan jawaban yangpaling pas buat Si Bapak. Saat dirinya duduk di depan meja Shinichi dan ngomong tentang hal itu,anak itu hanya nyengir kuda seraya menyuruh Haibara mengatakan hal-hal yang lainbersamaan dengan SMS penolakan yang akan dikriimkannya.

“Kalo gak salah si Bapak baru saja pindah ke rumah baruyang ada kolam di halaman depannya. Omongin saja tentang itu, mudah-mudahan membantumencairkan suasana” kata Shinichi

“Busyet lu!. Dasar tukang kasiy beban moral berat ke orang,udah tahu aku dekat dengan dia malahan aku yang disuruh menolak dia!” kataHaibara sambil tiba-tiba saja kepalanya serasa muncul tanduk saking kesalnya melihat kecuekan Shinichi.Rasa-rasanya dirinya ingin menyeruduk Shinichi dengan tanduk itu.  Tapi sudahlah. Percuma saja berantem dengan situkang nyengir. Malahan dia seneng kalodiseruduk Haibara. Akhirnya dengan hati masygul Haibaramemakai juga saran Shinichi pada SMS-nya.

“Punten pisan Pak,kita sudah susun acara hingga hitungan menit. Jadi benar-benar kami tidak bisalagi menyelipkan pengisi acara lain. Semua jadwal sudah confirm ke pengisiacara, dan kami kesulitan bila harus buat konfirmasi baru lagi dengan mereka.  Btw saya sudah lihat rumah bapak yang baru,asyik banget ada kolam besar di halaman depan, saya pernah lihat Bapak baca koran sambil duduk di gazebo ditengah kolam. Kayaknya seru banget!”

Satu jam belum adajawaban dari Si Bapak. Hingga Haibara mulai gelisah sambil sesekali melirikShinichi yang masih sibuk dengan kertas-kertas pekerjaannya.  Akhirnya Haibara membuka laptopnya dan mulai sibuk dengan SOP-SOP baru yang harusdibuatnya.  Dia memutuskan untukmenenggelamkan diri dalam pekerjaanya. Namun untunglah, dua jam kemudian ada jawabandari si Bapak, dan isinya pendek namun sangat melegakan.

 “OK, saya pernahmengalami jadi panitia, jadi saya dapat memahami kesulitan Haibara”.


Wuuiiiih.... Haibara serasa melayang-layang di antaramega-mega. Pekerjaan yang disangkanya sulit itu ternyata tidak sesukar yangdibayangkan.  Ternyata si Bapak dapat memahamialasan Haibara. Jadi hal-hal  yangditakuti selama beberapa jam terakhir ini tidak nyata, hanya ada pada bayangannyasendiri (Undil-2011).

Gambar dari :artstor 

Rabu, 07 Desember 2011

Demang Nuru dan Para Ksatria Jepara


Demang Nara, Demang Neri danDemang Nuru duduk bertiga di depan sebuah meja kotak dari kayu cendana ditengah pendopo kadipaten. Para demang yang lain juga duduk di beberapa mejalain yang ditata apik di pendopo. Wangi-wangian berupa dupa yang dibakarpojok-pojok ruangan menghiasi udara pendopo. Hari ini di ruangan itu akandilakukan pertemuan para pejabat  kadipaten dengan perwakilan Ksatria Jeparauntuk merundingkan berbagai hal. Sang Adipati akan memimpin sendiri delegasi kadipatenpada pertemuan kali ini.


Hal-hal yang penting untukdibicarakan adalah soal perdagangan, disamping soal-soal keamanan. Kadipatenmemiliki hasil bumi seperti beras, jagung dan kelapa untuk dipasok ke Jepara.Sementara Jepara selaku salah satu kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawamemiliki kain sutera, minyak ikan, ter, kertas, kapur barus, minyak wangi,barang-barang pecah belah dari porselin & kristal, peralatan rumah tanggadari logam dan obat-obatan yang dibutuhkan rakyat kadipaten.

Demang Nara yang tiba duluandi tempat itu memesan minuman buat dirinya dan dua temannya. Awalnya diamemesan teh tawar untuk dirinya, tapi kemudian dia tertarik dengan tawaranpelayan untuk mencoba minuman air kelapa muda ditambah sirup strawberry yangdidatangkan khusus dari Venesia. Sirup yang dibawa oleh pedagang-pedagang dariGujarat itu telah tersohor kenikmatannya. Namun karena dia sudah memesan satu gelasteh tawar, maka Demang Nara hanya memesan dua gelas kelapa muda strawberry.

Yang menyusul datang adalahDemang Neri, si juragan beras muda belia dari wilayah timur kadipaten. DemangNeri mengendalikan lumbung-lumbung padi yang berada di wilayah kekuasaannya.Makanya dia adalah aktor penting dalam perundingan ini mengingat Jeparabukanlah daerah yang memiliki petani. Hampir seluruh penduduk Jepara adalahkaum pedagang, para tukang, tabib, ahli kimia, pembuat senapan & meriam,  pemintal kain dan profesi lain yang takterkait dengan produksi beras.

Melihat di depannya telahtersuguh minuman kelapa muda strawberry, Demang Neri tertarik untukmencicipinya seperti yang dilakukan Demang Nara. Dan dia tidak kecewa dengankelezatan paduan rasa kelapa muda strawberry.

Demang Nuru baru muncul satujam kemudian. Agaknya dia masih sibuk membuat sapu lidi di halaman belakangrumahnya sehingga terlambat tiba di kadipaten. Demang Nuru memimpin wilayahselatan kadipaten yang merupakan pusat perkebunan kelapa. Setiap tahun ratusanribu kelapa dihasilkan oleh wilayah itu, namun tidak semuanya dapat terjual.Belakangan muncul permintaan baru yaitu kelapa yang telah dikeringkan untukdipasok ke Jepara. Kelapa kering itu selanjutnya akan diangkut ke Makasar yangmerupakan pusat perdagangan kopra dunia di masa itu. Sebuah peluang perdaganganyang sangat menguntungkan bagi Demang Nuru.

Hasil sampingan dari perkebunankelapa adalah sapu lidi yang dibuat dari daun-daun kelapa. Adalah hobby DemangNuru untuk membuat sendiri sapu lidi menemani para pegawainya, yang tak lainadalah anak istrinya. Sayang sapu lidi bukanlah barang yang gampang dijualkarena relatif awet. Orang bisa beli satu untuk dipakai satu dua-tahun,sehingga penjualannya juga kurang bagus.

Melihat dua temannya minumkelapa muda berwarna merah muda -- warna sirup strawberry Venesia, terbitlahair liur Demang Nuru karena kepengin merasakan juga. Namun alangkah kecewanyadia saat pelayan datang malahan membawakan teh tawar bagi dirinya. DilihatnyaDemang Nara senyum-senyum sambil pasang muka tidak bersalah, sementara DemangNeri pura-pura sibuk menulis-nulis dengan pensil arang di atas kertas yangdibawanya. Setelah diamat-amati ternyata Demang Neri cuman menggambar duagunung dan matahari terbit diantaranya. “Sungguh Demang yang kekanak-kanakan”pikir Demang Nuru.

Karena untuk pesan minumanlagi dia malu pada Sang Adipati, maka terpaksalah Demang Nuru meminum teh tawaryang disuguhkan. Rasanya beda banget sih dibanding teh yang dirumahnya. Teh initeh kelas satu yang telah dibumbui dengan bunga melati dan diracik oleh emputeh nomor satu di kadipaten. Sementara teh di rumahnya adalah daun teh keringtanpa bumbu yang rasanya biasa-biasa saja. Jadi agak sedikit terhiburlah hatinya.Dicoba dinikmatinya setiap tetesnya. “Hmmm benar-benar nikmat tidak seperti tehyang di rumah.  Lagipula kalau aku minummanis-manis malahan bisa serak” pikir Demang Nuru.

^_^

Sayup-sayup Demang Naramendengar suara derap puluhan ekor kuda mendekati halaman pendopo kadipaten. Sejuruskemudian dilihatnya ada kurang lebih dua puluh ksatria berkuda dengan pakaianwarna putih, sorban warna putih dan bersepatu hitam memasuki halaman kadipaten.Merekalah para Ksatria Jepara yang ditunggu-tunggu.

Ksatria di barisan terdepanmembawa panji-panji gula kelapa – merah putih lambang Kesultanan Demak Bintoro.Jepara adalah salah satu wilayah Kesultanan Demak Bintoro – salah satu kerajaanmaritim terbesar di nusantara sepanjang masa. Demak Bintoro mengandalkanpendapatannya bukan dari pertanian, tetapi dari perdagangan internasional dikota-kota pelabuhan di sepanjang pantai utara Pulau Jawa, termasuk pelabuhanJepara.

Berkat perdagangan itulahDemak Bintoro muncul sebagai kerajaan maritim yang kaya raya dan mampumembangun armada kapal-kapal perang yang disegani di nusantara. Disamping pasukandan senjata, faktor ketersediaan uang memegang peranan penting dalam perang dimasa itu. Bila tidak memiliki uang yang cukup maka pasukan yang sedangbertempur akan kesulitan perbekalan dan persediaan senjata, apalagi bila merekaterlibat perang dalam jangka waktu lama.

Demang Nara berdecak kagummelihat kuda-kuda arab yang ditunggangi Ksatria Jepara. Kuda-kuda itu berukurandua kali lebih besar dari kuda-kuda lokal yang dibawa para Demang. KekagumanDemang Nara semakin bertambah tatkala melihat di setiap bahu para ksatria itutersandang senapan, sama seperti senapan yang dipamerkan oleh orang-orangPortugis di Pasuruan. Sementara para Demang seperti dirinya masih mengandalkanpedang dan tombak sebagai senjata.


Lain halnya bagi Demang Neriyang sewaktu remaja  pernah menjadi awakkapal sebuah kapal dagang Gujarat. Kehebatan Ksatria Jepara bukanlah hal yangbaru.  Dia tahu persis Ksatria Jeparabukan saja memiliki prajurit, tetapi juga sekelompok tabib yang siap mengobatiprajurit yang terluka, ahli pergudangan yang mengatur logistik pasukan, ahlinavigasi, tukang gambar peta, ahli mesiu, dan ahli meriam.

Ksatria Jepara juga mampubergerak cepat menuju daerah-daerah musuh karena memiliki armada jung, yaitu kapal-kapalbesar khas pedagang Jawa yang siap membawa mereka kemana saja. Berbeda denganpasukan kadipaten yang mengandalkan angkutan darat seperti kuda dan pedati,sehingga sulit membawa perbekalan dan butuh waktu berbulan-bulan untuk mencapaikota-kota yang jauh.

Pernah di suatu malam kapaldagang Gujarat yang ditumpangi Demang Neri berpapasan dengan kapal-kapal perangKsatria Jepara di lepas pantai ujung timur Pulau Jawa. Ada kurang lebih duapuluh jung Jepara yang berlayar mendekati benteng Portugis yang samar-samarterlihat berdiri megah di tepi pantai dengan menara-menara yang menjulangtinggi.

Demang Neri terperanjattatkala terdengar bunyi ledakan keras bersahut-sahutan. Kemudian di gelapnyamalam  terlihat bola-bola api meluncurdari kapal-kapal perang Jepara melesat ke arah Benteng Portugis. Bola-bola apitersebut meledak di tembok-tembok batu Benteng Portugis dan menimbulkankebakaran hebat. Awalnya masih terlihat bola-bola api balasan meluncur dariBenteng Portugis menuju jung-jung Jepara. Tapi bola-bola api itu semakin lamasemakin berkurang seiring runtuhnya menara-menara di Benteng Portugis. Rupanyameriam-meriam Armada Jepara mampu membungkam perlawanan sengit bentengtersebut. Hanya dalam waktu kurang dari satu malam benteng yang berdiri megahtersebut telah porak poranda dihajar meriam-meriam Ksatria Jepara.      

^_^

Sang Adipati mencegah para demangbangkit dari duduknya untuk berdiri menyambut hadirnya para tamu pada saat padasaat delegasi Ksatria Jepara memasuki pendopo Kadipaten. Para ksatria itudikenal kurang suka penghormatan seperti itu dari tuan rumah.  Sang Adipati agaknya telah mengenal merekadengan sangat baik. Sesaat kemudian Adipati memperkenalkan tamu-tamunya.

Pemimpin para Ksatria Jeparaadalah seorang pria bertubuh tinggi, tegap, berkulit putih dan berhidung mancungbernama Muhammad Yunus, lebih dikenal dengan nama Pati Unus. Dia adalah seoranglaksamana yang berpengalaman luas dan juga seorang ahli pemerintahan yangcakap.

Disamping Pati Unus berdiriseorang anak muda berusia sekitar dua belas tahun, diperkenalkan sebagai muridSunan Kudus yang paling cerdas. Dia akan membantu merumuskan perundingan inidalam bentuk perjanjian tertulis. Dia adalah seorang Ksatria muda dari Jipang.Kemudian diperkenalkan juga dua orang ahli pertanian lulusan Madrasah Sunan Bonang di Tuban. Mereka yang akan menilai kualitas beras, kelapa danhasil pertanian lain di kadipaten. Bila harga dan kualitas sesuai denganpermintaan Jepara maka akan dilakukan pembicaraan lanjutan untuk merumuskankerja sama perdagangan. Mereka juga akan merundingkan soal-soal keamanan diwilayah perbatasan.

^_^

Selama berlangsungnyaperundingan, Demang Nuru telah melupakan minuman kelapa muda strawberry yangdiimpikannya. Dia telah punya pikiran lain yang menurut dia jauh lebih penting.Sapu lidi! Yah dia mampu memproduksi ribuan sapu lidi tiap tahun tapijarang-jarang yang beli. Akhirnya dia terpaksa menurunkan produksinya karena stokseringkali hanya menumpuk di gudang.

Kini didepannya hadir para KsatriaJepara yang memiliki jung-jung berukuran besar. Dia juga mendengar ada ratusankapal dagang yang sering singgah di pelabuhan Jepara. Untuk bersih-bersih kapalpakai apalagi kalau bukan pakai sapu?. Demang Nuru berpikir barangkali sajakapal-kapal itu tertarik membeli sapu lidi buatannya, khan lumayan!. Dia bisamemuaskan hobbynya membuat sapu lidi dan memaksimalkan potensi perkebunankelapa di wilayah timur kadipaten dalam memproduksi sapu lidi (undil- 2011)

Gambar diambil dari: wikipedia

Jumat, 18 November 2011

Dongeng Sang Kancil vs Suku Penjarah

Berita tentang sepak terjang Suku Pongpongbolong sudah meluas sampai ke hutan-hutan di sekitar Laguna Biru. Suku Pongpongbolong adalah sekelompok orang kurang terpelajar yang kerjanya merambah hutan, menebangi kayu-kayunya dan membakar sisanya. Mereka juga memburu binatang-binatang hutan untuk diambil kulitnya atau diawetkan untuk dijual.

Begitu mereka berhasil memasuki sebuah hutan mereka akan merusaknya, mengaduk-aduk tanahnya untuk mencari logam mulia dan meninggalkannya setelah tidak ada pohon, hewan dan barang berharga yang tersisa untuk dijarah. Tak heran mereka sukses merubah hutan-hutan lebat menjadi padang tandus, kering dan berantakan.



Kengerian akan sepak terjang mereka semakin bertambah saat kelompok penjarah itu mulai mampu membeli senapan dan mesiu untuk memperlancar aksi penjarahan hutan. Perlawanan dari kawanan Macan dan Gajah yang mengamuk  menjadi tidak ada artinya di hadapan terjangan timah panas. Senapan-senapan itu membuat mereka tak mampu dilawan para binatang. Karenanya Suku Pongpongbolong sangat ditakuti oleh para penghuni hutan.   

Binatang penghuni Hutan Utopia di seberang selatan Laguna Biru sudah mulai resah mendengar kabar kedatangan suku Pongpongbolong di hutan cemara sebelah utara Laguna. Mereka telah mendirikan tenda-tenda di tepi Laguna. Sebentar lagi makhluk-makhluk penjarah itu akan menebangi pohon cemara untuk membuat rakit-rakit guna menyeberangi Laguna menuju Hutan Utopia yang sangat subur dan kaya aneka ragam kekayaan hutan. Sebuah hutan impian bagi Suku Pongpongbolong untuk dijarah sampai tandas.

^_^

Ratusan penghuni Hutan Utopia telah berkumpul di depan rumah Sang Kancil untuk meminta nasehat-nasehat menghadapi kedatangan Suku Pongpongbolong. Sang Kancil yang dikenal oleh para penghuni hutan sebagai binatang paling kutu buku sehutan raya adalah satu-satunya harapan mereka. Si gudang ilmu pengetahuan nampak keluar dari rumahnya, memakai syal sambil berjalan terhuyung-huyung dipapah dua ekor gajah yang menjadi asistennya . Rupanya dia sedang sakit flu berat.

“Maafkan aku sedang sakit, tidak bisa lama-lama berada di luar rumah” ujar Sang Kancil

“Temui kami sebentar saja. Kami hanya minta nasehat cara menghadapi para penjarah Suku Pongpongbolong dengan ilmu pengetahuan & kebijaksanaan yang kau pelajari selama ini”

“Dengarlah ini kunci kemenangan kalian. Mereka orang-orang bodoh yang malas belajar dan pendek akalnya. Mereka yang hanya bisa menjarah hutan dan merusaknya tanpa kesadaran untuk memeliharanya atau memanfaatkan untuk hal-hal lain seperti bercocok tanam atau memelihara ternak. Kalian harus menggunakan hasil pemikiran bersama untuk mengalahkan mereka” kata Sang Kancil

“Ajarkan pada kami satu taktik melawan mereka. Kami akan berunding untuk mencari cara-cara tambahan untuk mengalahkan mereka” kata Beruang Madu selaku wakil para binatang.

Para binatang tahu bahwa Sang Kancil paling tidak suka mendiktekan cara menyelesaikan suatu masalah. Dia hanya mau memberi beberapa petunjuk, selanjutnya para binatang harus mendiskusikan di antara mereka untuk mendapatkan cara terbaik mengatasi suatu masalah. Sang Kancil berpandangan bahwa hasil pikiran ratusan binatang akan lebih baik dibanding hasil pikirannya seorang diri. Karena itulah dia enggan mengajarkan pemecahan masalah secara utuh dari A sampai Z.

“Baiklah aku ajarkan satu cara. Namun kalian harus berunding guna melengkapinya agar menjadi satu taktik yang hebat untuk mengalahkan mereka”


“Setuju Sang Kancil, kami akan berdiskusi untuk mendapatkan cara mengalahkan mereka” teriak Beruang Madu dengan mata berbinar-binar karena berharap mendapat taktik yang jitu dari Sang Kutu Buku.

“Dengarlah teman-teman. Suku Pongpongbolong itu bodoh. Mereka malas mempelajari fenomena-fenomena alam. Mereka tidak tahu banyak tentang sifat-sifat suara. Kita manfaatkan kelemahan mereka itu. Kita akan menakut-nakuti mereka dengan menjatuhkan guci-guci ke jurang besar di mulut hutan. Guci-guci tersebut aku rancang untuk memberikan suara yang sangat keras saat pecah di dasar jurang. Aku telah menelitinya selama bertahun-tahun di laboratorium. Saat guci-guci itu pecah, dinding-dinding jurang akan memantulkan suara yang sangat dahsyat dan menakutkan bagi orang-orang yang tidak tahu bahwa suara tersebut berasal dari gema suara di dinding-dinding batu” kata Sang Kancil

“Setujuuuuu….. Hore kita akan mengalahkan mereka” teriak para penghuni hutan.

^_^

Maka mulai hari itu ratusan penghuni hutan sibuk membuat guci-guci sesuai rancangan Sang Kancil. Mereka juga berdiskusi tentang cara mengalahkan para penjarah hutan. Maka diputuskan untuk mengirim pasukan lebah dan semut ngangkrang saat Suku Pongpongbolong telah mendarat dari rakit-rakit mereka.

Mereka juga mempersiapkan kawanan gagak untuk berkaok-kaok di dasar jurang bersamaan dengan dijatuhkannya guci-guci agar biar memberikan efek suara yang lebih menakutkan bagi para penjarah hutan. Tak  lupa kawanan binatang itu mempersiapkan tumpukan kayu di balik sebuah bukit di tengah hutan untuk dibakar agar menimbulkan asap yang tebal.

Seperti yang telah direncanakan, saat ratusan kawanan Suku Pongpongbolong mencapai seberang Laguna, mereka langsung disambut oleh sengatan ribuan lebah.  Ketika mereka berhasil mengusir serbuan lebah dengan api dari  obor-obor yang mereka nyalakan, tiba-tiba datang ribuan semut ngangkrang mengigiti kaki mereka.  Bersamaan dengan itu terdengar suara dentuman-dentuman dahsyat dari arah hutan disertai asap yang membubung tinggi dari bukit yang menjulang di tengah hutan.

Para penjarah Suku Pongpongbolong sangat takut mendengar suara-suara berdentum-dentum sangat keras dari dalam hutan. Awalnya mereka menyangka ada raksasa sedang terbatuk-batuk di dalam hutan. Namun saat mereka melihat asap membubung tinggi dari atas bukit, mereka langsung mengira tengah terjadi letusan gunung api dari dari dalam hutan. Maka mereka memilih mengambil langkah seribu karena takut terkena terjangan lava pijar gunung api.

Di pagi yang cerah itu para penghuni hutan menyaksikan suku penjarah yang sangat ditakuti itu tiba-tiba menjadi sekelompok cecurut penakut yang lari terbirit-birit kembali ke atas rakit untuk pergi sejauh-jauhnya dari Hutan Utopia. Para binatang bersorak sorai melihat musuh mereka lari terkencing-kencing. Hutan Utopia akan kembali aman dari ancaman penjarahan. Mereka sangat senang memiliki Sang Kancil selaku kutu buku yang nasehatnya sangat ampuh untuk menaklukan musuh. Namun mereka juga sangat bangga dengan ide letusan palsu gunung api. Sungguh suatu ide cemerlang yang muncul begitu saja saat diskusi di antara mereka (Undil – 2011).

tags: dongeng sang kancil, cerita kancil, cerita anak, cerita pendek, cerpen, cerita manajemen

gambar diambil dari : paintinghere.com
   

Sabtu, 22 Oktober 2011

Akhir Riwayat Sang Lutung

Seekor lutung (kera hitam) berjalan terseok-seok di pasir. Akibat jatuh dari pohon, tubuhnya menjadi lemah tak bertenaga. Ia lapar sekali, sementara hutan masih jauh. Dengan memaksa diri, ia tiba di tepi muara sungai. Ia minum dengan rakusnya. “Kenapa kamu pucat lutung? Kamu sakit payah?” tegur seekor ayam hutan besar yang mematuk-matuk udang di tepi muara. “Ya, tolong terbangkan aku ke hutan di seberang muara ini,” pinta lutung. Ayam hutan merasa iba dan setuju, ia terbang membawa lutung yang berpegangan erat di kakinya.

Sesampainya di hutan, lutung tak mau melepaskan kaki ayam hutan. Ia bahkan mencabuti semua bulu ayam hutan yang berwarna kuning keemasan itu. Sang ayam hutan pingsan karena kesakitan. Dia sudah mati, pikir lutung. Kemudian bangkai ayam hutan disembunyikannya di dalam semak belukar, sementara ia pergi mencari api di dalam hutan.

Sang Ayam Hutan kemudian sadar. Dia menangis tersedu-sedu sebab kehilangan semua bulunya. “He, kenapa badanmu, siapa yang telah mencabuti bulu-bulumu?” tanya seekor sapi dengan heran. Ayam hutan menceritakan semua pengalamannya. Alangkah marahnya sapi terhadap perlakuan si lutung. “Kurang ajar!” Biarlah kuberi pelajaran lutung itu. Sembunyilah kau di tempat lain,” ujar sapi. Ayam hutan menurutinya. Ketika lutung datang membawa obor dan menanyakan di mana ayam hutan, sampi membohonginya. “Ayam hutan itu rupanya belum mati, ia berenang ke tengah laut,” kata sapi. Lutung meminta sapi mengantarnya ke gundukan batu karang di tengah laut, di mana ia mengira si ayam hutan bersembunyi. Dengan ramah sapi bersedia mengantarnya. Tanpa pikir panjang lutung naik ke punggung sapi yang kemudian berenang ke gundukan batu karang di tengah laut. Akan tetapi, setelah lutung loncat ke gundukan batu karan gitu, segera sapi meninggalkannya. “Semoga kau mampus disergap ikan gurita” ujar sapi. Lutung duduk di puncak batu karang dan menangis. “Mengapa kamu menangis?” tegur seekor penyu. “Aku heran, bagaimana kau dapat ke sini.” Aku naik sampan, kemudian sampanku terbalik dan aku terdampar disini,” jawab lutung berbohong. Karena kasihan, penyu mengantarkan lutung ke pantai. Lutung naik ke punggung penyu.

“Bagaimana kau dapat berenang dengan cepat?” tanya lutung. “Dengan kayuhan kaki-kakiku,” jawab penyu tanpa curiga. Ketika di pantai, lutung ingin melihat kaki penyu. Penyu setuju dan segera tubuhnya dibalikkan oleh lutung. Ternyata lutung segera meninggalkan penyu dalam keadaan terbalik. Ia bermaksud mencari harimau, karena hanya harimaulah yang dapat mengeluarkan daging penyu dari kulitnya yang keras itu.

Penyu menangis dan berteriak-teriak minta tolong. “Mengapa kamu?” tanya seekor tikus yang mendekat. Penyu lalu menceritakan pengalamannya. Tikus pun mejadi sangat marah terhadap lutung yang tak tahu membalas budi itu. Ia bersama tikus-tikus lain menggali pasir di bawah badan penyu, dengan harapan apabila air pasang naik penyu dapat membalikkan tubuhnya dengan mudah. Sementara menunggu kedatangan lutung, tikus-tikus itu menutupi tubuh penyu dengan tubuh mereka sendiri. Dan menari-nari sambil bersayir : “Mari kita ikut gembira ria … bersama sang lutung yang jenaka … yang berhasil menipu Raja Rimba … yang mengira betul ada penyu, padahala hanya kita yang ada…” Lutung yang datang bersama harimau sangan heran, dimanakah penyu? Mendengar syair tikus-tikus, harimau pun menjadi marah karena merasa ditipu. “Mana penyu yang kau katakan itu?” geramnya. Kemudian lutung itu diterkam oleh sang Harimau, dibawa lari kedalam hutan.

(SELESAI)

Jumat, 21 Oktober 2011

Aladin dan Lampu Ajaib

Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. “Kraak…” tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.


Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. “Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu”, seru si penyihir. “Tidak, aku takut turun ke sana”, jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. “Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu”, kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. “Cepat berikan lampunya !”, seru penyihir. “Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar”, jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya “Brak!” pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. “Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !”, ucap Aladin.

Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. “Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan”, saya adalah peri cincin kata raksasa itu. “Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah.” “Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini”, ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. “Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan.”

Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. “Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?”, kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. “Syut !” Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. “Sebutkanlah perintah Nyonya”, kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,”kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami”. Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. “Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu”, kata si peri lampu.

Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. “Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya”. Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. “Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku.” Raja amat senang. “Wah…, anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku”.

Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. “Tuan, ini Istananya”. Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. “Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?”, Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.

Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, “tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !”. Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.

Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. “Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku”, seru Aladin. “Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu,” ujar peri cincin. “Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana”, seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. “Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir”, ujar sang Putri. “Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang”, jawab Aladin.

Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. “Singkirkan penjahat ini”, seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. “Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia”. Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.

(SELESAI)

Kamis, 20 Oktober 2011

KISAH SI PEMALAS DENGAN ABU HANIFAH

Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar oleh beliau suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Keluhannya mengandungi kata-kata, "Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi lagi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah longlai. Oh, manakah hati yang belas ikhsan yang sudi memberi curahan air walaupun setitik."
Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah berasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Sebaik saja dia sampai ke rumah orang itu, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi wang kepada si malang tadi lalu meneruskan perjalanannya. Dalam pada itu, si malang berasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas beliau tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi wang dan secebis kertas yang bertulis, " Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh diperuntungkan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cubalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."



Pada keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melalui lagi rumah itu dan suara keluhan itu kedengaran lagi, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kelmarin,sekadar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai untung nasibku."
Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi wang dan secebis kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Orang itu terlalu riang sebaik saja mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya.

Seperti dahulu juga, di dalam bungkusan itu tetap ada cebisan kertas lalu dibacanya, "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian 'malas' namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak redha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan….jangan berbuat demikian. Hendak senang mesti suka pada bekerja dan berusaha kerana kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak perlu atau disuruh duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengkabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah…carilah segera pekerjaan, saya doakan lekas berjaya."

Sebaik saja dia selesai membaca surat itu, dia termenung, dia insaf dan sedar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka berikhtiar dan berusaha.
Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah mengikut peraturan-peraturan hidup (Sunnah Tuhan) dan tidak lagi melupai nasihat orang yang memberikan nasihat itu.
Dalam Islam tiada istilah pengangguran, istilah ini hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam mengajar kita untuk maju ke hadapan dan bukan mengajar kita tersadai di tepi jalan.

Senin, 01 Agustus 2011

Puisi tentang Makan Sahur

Disini, saat ini
adalah satu-satunya
milik kita
tanpa bayangan masalalu
tanpa kekhawatiran masadepan
Nikmati dan resapi
tetes-tetes kekinian
dalam pelukan kesabaran
Biarkan sahur dini hari
ciptakan dunianya sendiri
yang indah dalam sunyi
yang nikmat dalam gelap
yang bahagia dalam kesucian
merindu ridha Ilahi
(undil-2012)

Jumat, 08 Juli 2011

Sisi Positif Aristokrasi Menurut Romo Wage


Romo Wage berpandangan bahwa aristokrasi tidak selalu buruk. Menurut Romo, aristokrat , kaum ningrat, atau bangsawan tidak melulu soal keturunan. Aristorasi adalah seperangkat karakter dan tingkah laku yang harus diikuti seseorang agar layak tergolong kelompok aristokrat. Standar etika yang tinggi dan disiplin yang keras menjadikan kelompok aristokrat layak menjadi panutan bagi masyarakat umum.

Disiplin tingkat tinggi ini mengingatkan Romo Wage pada ibunya yang selalu menerapkan standar yang tinggi. Misalnya beliau selalu meminta Romo Wage untuk sholat di masjid dan mengaji sehabis maghrib. Bukan sekedar menyuruh sholat, tapi harus sholat di masjid. 

Bukan sekedar melarang nonton TV sehabis maghrib, tapi menyuruhnya mengaji. Tak cukup dengan mengaji, dirinya juga diminta  Ibunya untuk setor hapalan surat-surat pendek beserta artinya seminggu dua kali. Standar tinggi yang diterapkan Ibunya itu membuat Romo Wage dapat dengan mudah memenuhi standar umum yang berlaku di masyarakat.    

^_^

Bagi Romo Wage, pada jaman kiwari ini Aristokrat dapat disamakan dengan elite. Seseorang yang sudah memasuki kelompok elite dalam masyarakat di bidang bisnis, politik, budaya, pendidikan dan bidang lainnya, idealnya menyadari posisinya sebagai elite. Dia adalah segelintir orang yang menjadi contoh bagi masyarakat banyak.

Makanya Romo Wage tak akan banyak komentar saat melihat seorang temannya membuang bungkus permen sembarangan bila dia seorang pegawai biasa di kecamatan, tapi lain halnya bila dilakukan oleh temannya yang jadi camat. Romo Wage pasti akan berusaha untuk menegurnya walaupun secara halus.

Memaki orang lain dengan kata-kata kasar tidak terlalu dipikirkan oleh Romo Wage bila dlakukan seorang pegawai biasa di kampus, tetapi akan membuat Romo Wage geleng-geleng kepala bila dilakukan oleh temannya yang sudah profesor. Romo Wage juga punya pengalaman dahulu saat dia masih kerja di travel, bila punya bos yang suka terlambat maka dirinya juga jadi tak begitu hirau dengan ketentuan jam masuk.

Romo Wage berkesimpulan bahwa semua orang yang berada dalam posisi elite adalah contoh yang akan ditiru, atau bisa dijadikan alasan pembenar oleh orang awam yang melakukan kesalahan serupa.

Persis yang pernah dialaminya. Saat Romo Wage sering main games di warung bakso, dia mendapati para pegawainya juga lebih suka main games dengan HP daripada mencuci mangkok-mangkok bakso bekas pelanggan. Alasannya “si bos saja main mafia war” kok saya gak boleh main games. Saat Romo Wage tidak ramah pada pembeli, dia mendapati anak buahnya ikut-ikutan mengomeli pelanggan yang banyak keinginan saat memesan bakso.

Dengan demikian kesadaran bahwa seseorang merasa dirinya termasuk kelompok elite dalam pandangan Romo Wage tidak berhubungan dengan kesombongan ataupun memandang rendah orang lain. Namun terkait dengan disiplin yang harus dijalaninya sebagai seorang elite. Kesadaran itu terkait dengan spesifikasi dasar untuk menjadi seorang elite.


Tak heran Romo Wage sering memberi nasehat pada teman-temannya: “Jika kamu seorang gubernur dan sedang jalan-jalan dengan seorang teman – berhati-hatilah saat menyeberang jalan. Seorang gubernur seharusnya menyeberang di jembatan penyeberangan atau zebra cross. Jadi mau tak mau dirimu harus memaksa temanmu mencari zebra cross terdekat sebelum menyeberang jalan”. (undil-juli 2011) 

Sumber gambar: turkeyforholydays.com

Sabtu, 02 Juli 2011

Cara Mitsunari Mengatasi Rasa Kantuknya

Seperti malam-malam sebelumnya Mitsunari kembali keluar kamar karena kantuk tak tertahankan. Jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tugas presentasi kuliah buat besok pagi, serta tumpukan dokumen kantor yang harus dibereskan malam ini telah memaksanya untuk menunda tidurnya. Semua harus beres malam ini. Sialnya matanya tak tahan lagi untuk tidak terpejam.

Maka seperti yang biasa dilakukannya, Mitsunari keluar dari rumahnya sambil menenteng ransel dan berjalan menuju warung tenda yang berada hanya 300 meter dari rumahnya. Warung itu melekat pada pinggiran sebuah taman kecil di tengah pertigaan Jalan Eijkman. Taman berbentuk segitiga dengan panjang sisinya 20 meter itu pada dua sisinya dijejali deretan warung. Satu sisi yang lain berisi mobil-mobil yang diparkir. Mitsunari menuju salah satu warung yang menjadi langganannya.

Warung langganan Mitsunari menjual makanan standar kakilima. Pecel lele, sop kikil, soto ayam, bebek goreng dan ayam goreng. Mitsunari biasa memilih salah satu menu secara bergantian. Namun untuk malam ini yang hanya bertujuan mengusir kantuk, Mitsunari memesan kopi susu plus beberapa potong pisang goreng saja. Dia ngobrol barang 5-10 menit dengan Bapak yang melayani makan, baru kemudian menyingkir ke tempat duduk dari semen yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pembatas taman.

Di bawah penerangan sinar lampu taman yang lumayan terang, Mitsunari meneruskan segala tetek bengek tugas kuliah dan kerjaan kantor di situ. Dikeluarkannya laptop dan buku-buku dari dalam tas, kemudian Mitsunari mulai beraksi membereskan tugasnya.

Anehnya saat mengerjakan tugas di warung ini Mitsunari berkurang jauh kantuknya. Mungkin karena pengaruh angin malam, mungkin juga karena obrolan orang-orang di warung yang membuatnya bersemangat mengerjakan tugas karena melihat orang lain juga terjaga. Sesekali diseruputnya kopi dan dicomotnya pisang goreng sebagai selingan. Satu dua kali dia ikutan nyeletuk menimpali obrolan yang tengah berlangsung seru di warung.

Biasanya pengunjung warung secara konstan datang dan pergi silih berganti. Jarang warung sampai kosong. Obrolan di sana pun bervariasi topiknya, tergantung selera pengunjungnya. Mitsunari tak ambil pusing dengan isi obrolan karena pikirannya tertuju paa tugas-tugasnya. Dia menyelesaikan semua tugas kuliah dan dokumen kantornya bersamaan dengan jam tutup warung. Pukul 3 pagi kala penjaga warung beres-beres warungnya, saat itulah biasanya pekerjaan Mitsunari juga sudah selesai.



Untung malam ini tidak hujan. Jika hujan tiba-tiba turun Mitsunari bisa pindah ke serambi mushola yang ada di seberang taman. Di serambi yang tidak berdinding itu, dia dapat meneruskan pekerjaannya hingga selesai.

Terkadang bila kantuk tidak tertahankan, Mitsunari masuk ke kamar mandi Mushola dan menyegarkan badannya dengan mengguyurkan air ke kepalanya. Jika kantuk benar-benar parah Mitsunari mandi di tempat itu. Lazimnya kantuk Mitsunari jauh berkurang setelah mandi.

Diam-diam Mitsunari berasa berhutang budi pada warung yang telah membantunya memicingkan mata semalaman. Tanpa bantuan mereka bisa jadi tugas-tugas kuliah ataupun pekerjaan kantor terlambat atau bahkan terbengkalai. Untunglah mereka membuka warung di tempat itu sehingga Mitsunari yang harus lembur dapat terbantu (undil – 2011)

Senin, 09 Mei 2011

Dongeng Sang Kancil dan Sekawanan Gajah

“Blusukkkk!!!!” Sang Kancil tiba-tiba terperosok ke dalam sebuah sumur tua tatkala sedang berada di tepi hutan dalam perjalanan menuju pantai. Kabut masih tebal saat itu sehingga sumur tersebut tidak terlihat oleh Sang Kancil. Rupanya itu adalah sumur peninggalan Tarzan yang telah lama meninggalkan tempat itu untuk menjadi Tarzan Kota.



“Aduh biyuuungg, kakiku sakit buangeeet!” teriak Sang Kancil sambil menggaduh-gaduh menahan sakit. Meskipun dirinya terjatuh di air, namun karena air sumur tak seberapa dalam maka kakinya terasa nyeri yang hebat akibat benturan. Lalu dengan terpincang-pincang Sang Kancil berenang menepi dan duduk di batu besar yang menyembul di tepi sumur.

Sang Kancil termenung memikirkan nasibnya. Sumur ini ada di tepi hutan. Jarang sekali ada binatang yang berani bepergian sampai ke tepi hutan. Paling-paling sekawanan Gajah yang sedang menjajaki rute baru, kawanan Babi Hutan yang hendak mencari jagung atau Serigala yang sedang mencari-cari makanan tambahan karena sudah bosan dengan makanan yang ada di dalam hutan. Itu artinya dirinya harus lama menunggu sampai ada binatang yang menemukan dirinya di dalam sumur.

Setelah tiga hari tiga malam terjebak, pada hari keempat barulah muncul sekawanan Babi Hutan yang melongok dari bibir sumur. Mereka kehausan dan sedang mencari-cari sumber air minum yang memang jarang ada di tepi hutan itu. Sang Kancil berteriak kegirangan melihat Babi Hutan.

“Hoooiiii, bantu aku keluar dari sini duuuuuuung!” teriaknya sekuat tenaga.

Tapi alih-alih menolong Sang Kancil, para Babi Hutan malahan lari terbirit-birit mendengar suara menggelegar dari dasar sumur. Dikiranya ada monster penunggu sumur yang akan memakan mereka.

Sang Kancil kesal bukan main. Dianggapnya para Babi Hutan itu sungguh terlalu takut pada bayangan monster dalam pikiran mereka sendiri. Mereka terlalu percaya pada cerita-cerita monster sehingga apa saja yang aneh dan menakutkan langsung dianggap monster.



Pada hari kelima muncul lagi seekor binatang lain. Kali ini datang seekor keledai yang baru saja meloloskan diri dari majikannya. Dengan hati riang senang-senang dia bersiul-siul menyusuri tepi hutan. Sampailah dia di bibir sumur tempat Sang Kancil terperosok. Tentu saja dia haus dan penasaran, apakah bisa minum dari sumur tersebut. Belajar dari pengalaman ketakutan para Babi Hutan, kali ini Sang Kancil tidak berteriak. Dia hanya menyapa pelan pada Keledai yang tengah melongokkan kepala.

“Wahai teman, Tolonglah aku. Aku terperosok di dalam sumur tanpa bisa keluar lagi” kata Sang Kancil.

Keledai melihat sejenak ke dalam sumur dan terheran-heran mendengar suara dari dalam sumur. Kemudian dia mengamat-amati dasar sumur, barulah dilihatnya Sang Kancil yang sedang duduk lemas di atas batu. Tiba-tiba Keledai tertawa terbahak-bahak. Si Keledai tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai berguling-guling di atas tanah.

“Hohohoho...itukah Kancil nan cerdik yang tengah bernasib buruk. Uruslah sendiri nasibmu. Aku tak punya banyak waktu untuk menolongmu. Lagipula waktu aku jadi peliharaan majikanku, tak ada seorang pun yang peduli. Kini giliranmu dicuekin....Hahahahahaha. Sorry yah!” kata Keledai sambil berlalu dengan masih ketawa ngikik.

Sang Kancil kembali ditinggal seorang diri di dalam sumur. Pada hari keenam muncullah sekelompok orang membawa pedati yang beristirahat di tempat itu. Mereka mendirikan tenda-tenda dan mulai memasak. Nampaknya mereka adalah kafilah pedagang yang sedang mampir beristirahat. Mendengar suara-suara manusia, tahulah Sang Kancil bahwa dirinya harus bersembunyi. Maka cepat-cepatlah dia masuk ke lubang kecil yang ada di dinding sumur dan bersembunyi di situ karena takut ditangkap dan dijadikan sate kancil nan gurih.

Untunglah para pedagang itu jarang melongok ke dalam sumur sehingga tidak memergoki Sang Kancil. Mereka hanya sesekali saja pergi ke sumur itu untuk mengambil air dengan ember yang diikat dengan tali. Air itu dipergunakan untuk memasak, mencuci dan mandi. Keesokan harinya mereka telah meninggalkan tempat itu. Dari suara-suara mereka, tahulah Sang Kancil bahwa para pedagang itu membuang ember bertali di dekat sumur karena dianggapnya sudah usang.

Pada hari ketujuh muncullah sekelompok gajah yang melintas di dekat sumur. Mereka meneliti dasar sumur karena kehausan. Tak sengaja terlihat oleh mereka Sang Kancil tengah tertidur di sana. Para Gajah itu saling berbisik membicarakan binatang yang tengah terbaring di dasar sumur. Kemudian mereka berteriak memanggil Sang Kancil.

Sang Kancil kaget oleh teriakan para Gajah dan terbangun. Dilihatnya ada beberapa kepala gajah menyembul di bibir sumur. Diam-diam dia sedang berpikir keras cara minta bantuan mereka untuk keluar dari sumur. Akhirnya dia memutuskan untuk membantu para Gajah, baru kemudian minta tolong pada mereka. Memberi dulu baru kemudian menerima pertolongan.

“Wahai Gajah kita adalah sobat yang harus tolong menolong” kata Kancil.

Para Gajah mengangguk-angguk sambil bergumam tanda setuju. Mereka tak sadar jika Sang Kancil berada di dalam sumur karena terjatuh.

“Aku tahu kalian kehausan. Aku akan membantu kalian mengambil air dari dalam sumur. Coba lihat adakah ember dan tali yang diletakkan di dekat sumur. Kemarin kudengar para kafilah membuang ember beserta talinya karena sudah punya ember baru. Walaupun butut ember itu masih berguna bagi kalian. Turunkan ember ke dalam sumur, pegang ujung talinya. Aku akan membantumu menciduk air sumur” teriak Sang Kancil.

Para Gajah yang tengah kehausan dengan antusias mencari-cari barang yang disebutkan Sang Kancil. Sampai akhirnya mereka menemukan tak jauh dari bibir sumur tergeletak ember butut yang diikat dengan tali yang tak kalah bututnya dan penuh sambungan. Kemudian mereka menurunkan ember ke dalam sumur. Sang Kancil membantu menciduk air dan menyuruh gajah menarik ember yang sudah terisi air ke atas.

Begitulah berulang kali air diambil dari dasar sumur. Dengan girangnya para Gajah bergantian minum dan mandi dari air dalam ember yang diambil dari dalam sumur. Maklum sudah dari kemarin mereka kesulitan mencari sumber air. Setelah semua Gajah selesai mandi, barulah Sang Kancil berteriak untuk minta dikeluarkan dari dasar sumur.

Merasa Sang Kancil telah membantu mereka mendapatkan air, para Gajah dengan senang hati membantu Sang Kancil keluar dari dasar sumur. Sang Kancil berpegangan erat pada ember saat dia ditarik keluar dari dasar sumur.

Para Gajah serta merta mengerumuninya dan bertanya-tanya mengapa Sang Kancil bisa berada di dasar sumur. Tadinya mereka mengira Sang Kancil sengaja berdiam diri di sana. Kemudian Gajah-gajah itu membawakan berbagai macam pucuk daun muda dan buah-buahan untuk Sang Kancil yang terlihat begitu lemah sehingga sulit berjalan.

Setelah satu malam menginap di tempat itu dengan dijagai para Gajah, Sang Kancil merasa dirinya cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai selatan untuk bertemu dengan keluarga Paus biru. Mereka mengundang Sang Kancil untuk berbagi pengalaman.

Kancil berterimakasih pada para Gajah yang telah membantunya. Para Gajah juga merasa sangat berhutang budi pada Sang Kancil yang telah memberi tahu teknik sederhana mengambil air dari dalam sumur. Sengaja mereka membawa ember butut bertali ke rumah mereka di tengah hutan. Di sana terdapat sumur yang tidak pernah dimanfaatkan karena para Gajah tidak tahu cara mengambil air dari sumur yang dalam (Undil-2011).


Gambar diambil dari http://urdustar.com

tags: mengenal diri, mengenal orang lain, cerita manajemen, cerita pendek, cerpen, cerita kancil, cerita pendek, cerita binatang, dongeng kancil dan gajah, cerita anak  

Puisi untuk Sahabat: Never Ending Friend














Di setiap hembusan nafasmu
bukan saja kurasakan
perhatian yang lembut,
namun juga pengorbanan,
kerelaan untuk mendengarkan.

Mendengarkan seakan aku bayi
yang baru belajar bicara
Mendengarkan seolah tak rela
satu huruf pun terlewatkan
Mendengarkan tanpa menghakimi,
sehingga aku berani
menjadi diri sendiri

Di kehangatan kata-kata riangmu,
tercium wangi serumpun melati
yang mekar di jiwamu.
Kata-kata yang membesarkan hati,
memperkokoh percaya diri,
dan membuat rasa takut pergi.
Kata-kata jelmaan seruling gembala
yang menggiring kerbau-kerbau rinduku
berduyun-duyun menuju kandangmu

Di balik keceriaan-mu terbayang
Samudera jiwa besar yang teduh
tempatku menentramkan diri
Samudera bening tempatku bercermin yang
tak pernah bosan mendorongku memperbaiki diri
Samudera yang setia menemaniku berlayar
di jalan lurus yang diridhai Ilahi (Undil)

gambar diambil dari logo www.google.co.id  9 Mei 2011 bertema hargreaves

Sabtu, 30 April 2011

Persahabatan Romo Wage dan Romo Sunu

Salah seorang sahabat yang sering disambangi Romo Wage adalah Romo Sunu. Nama lengkapnya Sunu Catur Gunawan Wibisono, seorang juragan bubur kacang hijau  (burjo) yang berjualan di pertigaan menuju Jalan Sukajadi. Di kiri kanan jalan tersebut terdapat banyak kios-kios kelontong dan pakaian yang terkenal harga barangnya murah sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli.
 

Dampaknya warung burjo Romo Sunu juga selalu ramai dikunjungi pelanggan dan juga sopir-sopir angkot yang sedang ngetem cari penumpang di pertigaan Sukajadi.

Salah satu yang dikagumi Romo Wage pada diri Romo Sunu adalah keteraturan hidupnya. Romo Sunu selalu mulai berjualan pukul 9 pagi dan tutup pukul 3 sore, sesaat sebelum Ashar. Sehabis itu dia pulang ke Langgarnya dan menjadi imam Sholat Ashar di sana. Kemudian dia pergi ke kebun untuk menyiram sayuran-sayurannya.

Nanti pukul 5 dia sudah ada di langgar lagi untuk mengajar mengaji orang-orang tua hingga maghrib. Dilanjutkan dengan mengajar ngaji anak-anak kecil hingga Isya. Khusus untuk malam Jumat, Romo Sunu memberi pengajian umum yang diikuti oleh banyak sopir angkot yang rata-rata telah kenal baik dengan Romo Sunu.

Keistimewaan yang lain dari Romo Sunu adalah dia seorang pecinta buku, khususnya buku-buku agama. Menurut Romo Sunu, dia butuh selalu baca buku agar materi pengajiannya ada rujukan tertulisnya dan sesuai dengan kondisi masakini.

Di warung buburnya terdapat rak-rak buku yang berisi ratusan buku agama. Setiap hari, disela-sela waktu melayani pembeli dia menyempatkan diri membaca buku-buku tersebut. Awalnya sebagian besar bukunya berbahasa arab, oleh-oleh dari melanglang buana selama 10 tahun sejak lulus dari STM . Namun saat ini Romo Sunu sengaja membeli buku-buku berbahasa Indonesia agar bisa dipahami oleh teman-temannya yang sering pinjam buku untuk dibaca di rumah.

Biasanya setelah mencorat-coret bahan pengajian di kertas bekas, Romo Sunu akan mengetiknya di sebuah laptop kuno yang dibelinya saat masih menjadi awak kapal dagang. Setelah selesai diketik, tulisan itu dibagikan pada para peserta pengajian.


Inilah keistimewaan lain dari Romo Sunu, dia selalu membagikan bahan pengajian dalam bentuk tulisan sehingga bisa dibaca lagi di rumah. Hal itu juga berlaku untuk pengajian yang diikuti oleh anak-anak kecil. Untuk anak kecil, biasanya Romo Sunu melengkapi bahan pengajiannya dengan dongeng-dongeng pengalamannya selama melanglang buana menjadi ahli elektronik di kapal-kapal dagang.


Karena bahan-bahan pengajiannya berupa tulisan, maka perlahan-lahan tulisan-tulisan itu beredar dari tangan ke tangan dan dari fotocopy ke fotocopy. Lambat laun orang-orang mulai mengenal Romo Sunu, dan Pengajian Malam Jumatnya bertambah ramai. Bahan pengajian yang untuk anak kecil-pun telah banyak di pakai di playgroup dan taman kanak-kanak sebagai bahan mengajar karena banyak dihiasi cerita-cerita menarik.

Hampir setiap hari ada orang yang berkonsultasi soal agama dan masalah sehari-hari di warung buburnya, terutama sopir-sopir angkot dan karyawan toko. Romo Sunu yang pernah nyantri selama hampir 8 tahun itu akan menjawabnya dengan senang hati. Untuk jawaban yang dirinya masih ragu, Romo Sunu akan berkonsultasi dengan guru ngajinya.

Karena seringnya memberi konsultasi berbagai macam masalah pada banyak orang tersebutlah maka lama-kelamaan Sunu Catur Gunawan Wibisono dipanggil Romo, yang artinya bapak. Itu karena orang-orang di sekitarnya menganggap Sunu yang masih muda itu punya kebijaksanaan seperti seorang bapak bagi mereka. Sehingga layak dituakan dan dihormati.

Lambat laun orang mengenal Sunu Wibisono sebagai Romo Sunu, karena kebijaksanaannya. Sunu yang selama 10 tahun menjadi teknisi elektronika kapal selepas lulus STM tersebut pulang ke rumah karena diminta bapaknya untuk mengurus Langgar peninggalan kakeknya. Sunu yang pernah mondok di pesantren tersebut diharapkan dapat menghidupkan kembali Langgar tua itu dengan sholat jamaah dan pengajian.

^_^

Romo wage sering mampir ke warung Romo Sunu sekedar untuk mengobrol sana-sini membahas kehidupan sehari-hari, juga untuk mengundang Romo Sunu memberi pengajian di rumahnya. Kebetulan Romo Wage punya belasan angkot, dan dia secara rutin mengumpulkan mereka untuk diberi pengajian oleh seorang guru ngaji. Guru yang rutin ditunjuk Romo Wage adalah Romo Sunu, yang sudah kenal baik dengan kehidupan sehari-hari para sopir sehingga pengajiannnya dapat sesuai dengan kebutuhan mereka.

Setiap kali mendapat buku agama yang bagus, Romo Wage menghadiahkannya untuk Romo Sunu. Sebaliknya saat mendapat kiriman barang dari teman-temannya yang masih bekerja di kapal dagang, Romo Sunu tak lupa memberikan sebagian kepada Romo Wage. Tak heran persahabatan mereka semakin erat.

Salah satu jasa Romo Wage yang tidak bisa dilupakan Romo Sunu adalah gagasan Romo Wage pada Romo Sunu untuk menjual air minum dalam botol gelas. Kini lebih dari setengah dari omzet penjualan Romo Sunu berasal dari penjualan air putih dingin dan air jeruk nipis dingin yang dikemas pada botol gelas. Dalam sehari kulkas dua pintu di warung Romo Sunu bisa harus 3- 4 kali diisi untuk melayani permintaan pembeli.

Sebagian besar pembelinya adalah sopir angkot dan karyawan toko di Jalan Sukajadi. Menurut mereka minum air putih dingin dalam botol gelas serasa lebih mantap dibanding dalam botol plastik. Demikian juga air jeruk nipis Romo Sunu rasanya orisinal, mengingatkan mereka pada air jeruk nipis di rumah nenek saat mereka masih kecil.

Biasanya mereka ambil botol itu pada pagi hari dan dibalikkan sore hari setelah isinya diminum. Setiap hari ada ratusan botol kosong yang harus dicuci untuk diisi lagi keesokan harinya. Berkat jualan air minum dalam botol gelas itulah Romo Sunu dapat selalu membeli buku-buku baru (undil-2011).

gambar diambil dari:  http://server.dragoart.com/

tags: Cerpen, Romo Wage, Romo Sunu, Cerita Pendek, Cerita Manajemen, Cerita Bisnis, Romo adalah panggilan untuk ayah

Sabtu, 23 April 2011

The Terrible Effects of Multitasking

I have read the exciting article about multitasking from a nice-catchy blog of wagenugraha. He offered one rhetoric-question at the beginning of the article. Have you ever experienced when you're doing a task then suddenly there was a disturbance, such as a sudden phone or another tasks that must be addressed immediately ?. Thereafter you feel pretty tiring due to a large energy is needs to return to the original task.


A few days ago, I got another interesting article on mutitasking from motherjones.com The article concerning habits of doing many tasks at one time. Kevin Drum, the writer, explain over multitasking habits of people in these days, e.g., some people contantly checking messages while they socializing with someone else.

Drum told a complaint from his friend, a professor of university. A half of his 60 student of general physics class sits in the back of the room on phone or laptop. The “good” students work on assigments for next classes, but the bad ones are busy with facebook comments.

There are convincing evidences that entrenched multitasking has a long lasting negative effects on cognitive function. According to medical-dictionary, cognitive function is an intellectual process by which one becomes aware of, perceives, or comprehends ideas. It involves all aspects of perception, thinking, reasoning, and remembering.

Clifford Nass, a psychologist from Stanford shown that multitaskers are bad at neither multitasking nor every individual one of the tasks. So, they not just bad at multitasking.

Actually Nass and his colleague were absolutely shocked with the result of the study. The multitaskers are terrible at every aspect of multitasking. They’re bad at passing irrelevant information, fail to keeping information nicely and well organized, and also awkward at switching from one task to another.


Nass also indicated that the multitaskers think they are brilliant at multitasking. When he talk to them about the terrible effects of multitaskers, they claimed they are different with the student involved in the study. The student believed they could handle and manage all these tasks together.

Demonstration of the less efficient of multitaskers not just from Nass works. The facts that people who do two things at once will be less efficient -- has been demontrated many times. For example, people will  remember less of the news when they are distracted by the little text feed at the bottom of news show. Moreover they will be less remember both news and text.

According to Wage, in these days, we are in a culture that addicted to multitasking activities. A large number of tasks sometimes be addressed by doing more tasks at one time. But in facts, the frequent switching between one task to another is tiring and consuming much energy and time. Multitasking also decreasing the productivity of employees and possible to hurt the companies in a fairlly large value. So, Wage recommend us to minimizing the sources of distraction, decreasing interference at work and more focus to completed one job at one time.

Nass suggested to reduce the multitasking habits, be focus, be organized and not waste energy on switching. If we can’t stop multitasking actiities, Nass suggest us to at least take frequent breaks where we fully engaged in single task and exercising our analytic abilities (Undil 2011).
Source:
1. Kevin Drum, 2011, Its Not Just Rude, It’s Ruining Your Brain,motherjones
2. Wage Indrya Nugraha, 2011,Fokus dan Produktivitas, fractal.wordpress.com
Foto diambil dari: /http://www.wallcoo.net/paint/Picasso/Picasso_Fine_Art_desktop_ml0004.html

Minggu, 17 April 2011

Don't Just Clever, It’s Not Enough

Dian and Doni had just graduated from university. Dian took the study of bacteria, while Doni the fungi. Both are willing to work hard and be ready to stay for months in the microbiology laboratory for completed the research.

They are smart students, but Dian’s academic achievement is much prominent than Doni. Dian is a student with a very brilliant academic achievement, and additionally her non-academic achievements are no less convincing.

Cum laude predicate and a wad of certificates of her non-academic achievement make almost all their friends be sure that Dian will steadily moving toward the professional work faster than Doni who his achievement was not so prominent.

However the reality is different with their friends prediction. Just less than a month Doni be accepted to work at a factory of papers. Doni also gets offering of jobs from several companies. Otherwise Dian have need of one year in waiting before gets a job in a little bank. She don’t get any offering of jobs from another companies.

Why?

Dian is realy more clever than Doni, but Dian didn't have the skill which possessed by her friend. Doni has the skill to utilizing his knowledge of microbiology. Dian just a clever student, however she don’t know how to take advantage of her exceptional academic ability

Like a sprinter, Dian only able to win a championship which held in a special stadium for the runner. But if she has to compete the championship of run in the wild, Dian will be lose. Despite her run very fast, Dian only know the way of run on the highway.

There is absolutely unthinkable for her to running through a shortcut ways, like climbing down an valleys, crossing the rivers, or crossing a fields to reaching the destination faster. Consequently Dian’s achievement easily surpassed by a runner with the speed far below her.

Unlike Dian, Doni not just rely on jobs information that are in the university information center or in any newspapers. Doni studying many companies profile to predicting whether the companies needs his expertise, then send the resume to them. There are many companies need Dian and Doni ability.

Like The factory of negative film which assume the fungus is a threat for their negative film roll, The paper manufacturers who confuse when the paper rolls break off caused of overgrown of fungus; The wheat flour producers who want to have a mold-free warehouse; The food factories who want the food free of bacteria and fungi; The museum of painting in Singapore who wants to protect the collection from fungal attack, even the petrochemical industry were keen to recruit Doni after gets a presentation on wastewater treatment using microbes which cheaper and faster than the conventional one.

Doni has ability to optimizing the application of his expertise, so he gets a positive responses from many companies. The skills to use the knowledge is the key. Just clever is not enough. Dian should have ability to expanding the knowledge and see the problems from various perspectives in order to succesfully applying the knowledge in the real world (undil - 2011)